Pulau Kaja: Laboratorium Alam Terbuka yang Menghadirkan Pengalaman Berinteraksi Langsung dengan Orangutan Rehabilitasi

PALANGKA RAYA SEMAKIN KEREN – Dalam upaya memperkuat komitmen Indonesia terhadap konservasi satwa langka, Kota Palangkaraya memperkenalkan destinasi ekowisata revolusioner yang memungkinkan wisatawan berinteraksi langsung dengan orangutan dalam habitat semi-alaminya. Pulau Kaja, kawasan seluas 110 hektar di tengah Sungai Kahayan, kini menjadi pionir dalam konsep wisata edukasi konservasi yang berkelanjutan.(Kamis,18/9/25)

Konsep Rehabilitasi Inovatif dengan Pendekatan Humanis
Pulau Kaja berfungsi sebagai fasilitas transisi bagi orangutan yang telah menyelesaikan program rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng. Berbeda dengan konsep kebun binatang konvensional, pulau ini menerapkan sistem open habitat yang memungkinkan primata cerdas ini bergerak bebas di area seluas 110 hektar dengan pengawasan minimal.
“Kami menciptakan lingkungan yang memungkinkan orangutan untuk mengasah kembali insting alami mereka sebelum dilepasliarkan ke hutan,” ungkap Dr. Jamartin Sihite, Direktur Borneo Orangutan Survival Foundation. “Pulau Kaja adalah jembatan antara kehidupan dalam penangkaran dengan kebebasan sejati di alam liar.”

Pengalaman Wisata yang Mengedukasi dan Menginspirasi
Keunikan utama Pulau Kaja terletak pada konsep wisata edukatifnya yang memungkinkan pengunjung mengamati perilaku alami orangutan dari jarak yang aman namun cukup dekat untuk berinteraksi. Wisatawan dapat menyaksikan aktivitas harian orangutan seperti mencari makan, bermain, dan bersosialisasi dalam environment yang mendekati habitat aslinya

Fasilitas kapal wisata berdesain tradisional Kalimantan dengan kapasitas 25 penumpang telah disiapkan khusus untuk mengantarkan wisatawan menyusuri Sungai Kahayan menuju pulau. Perjalanan selama 50 menit dari pusat kota ini sendiri sudah menjadi petualangan menarik dengan pemandangan hutan riparian yang masih asri.

Protokol Keselamatan dan Etika Konservasi
Demi menjaga kesejahteraan orangutan dan keselamatan pengunjung, pengelola menerapkan protokol ketat yang wajib dipatuhi semua wisatawan. Pengunjung hanya dapat mengobservasi orangutan dari jarak minimal 10-15 meter dan dilarang keras memberikan makanan langsung kepada primata.

“Kami menerapkan aturan no direct contact policy untuk melindungi orangutan dari potensi stres dan penularan penyakit,” jelas Dr. Sihite. “Pengunjung akan didampingi guide berpengalaman yang memastikan interaksi berlangsung aman bagi kedua belah pihak.”
Kontribusi Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat
Kehadiran destinasi wisata Pulau Kaja memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal Palangkaraya. Puluhan pemandu wisata lokal, operator kapal tradisional, dan pengrajin souvenir mendapat kesempatan kerja baru dari industri ekowisata yang berkembang pesat ini.
Program kemitraan dengan masyarakat sekitar juga melibatkan petani lokal sebagai supplier buah-buahan organik untuk pakan orangutan, menciptakan supply chain yang berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak.

Teknologi Digital untuk Edukasi Maksimal
Untuk meningkatkan nilai edukatif, pengelola telah mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR) dan aplikasi mobile yang memungkinkan wisatawan mendapat informasi real-time tentang setiap orangutan yang mereka temui. Setiap individu orangutan memiliki microchip dengan data lengkap tentang riwayat hidup, proses rehabilitasi, dan karakteristik uniknya.
“Wisatawan dapat scan QR code untuk mengetahui nama, usia, dan cerita di balik setiap orangutan yang mereka lihat,” kata Maria Gonzalez, Koordinator Program Edukasi. “Ini membuat pengalaman wisata menjadi lebih personal dan berkesan.”

Pulau Kaja menargetkan dapat memfasilitasi proses pre-release bagi 50-60 orangutan setiap tahunnya. Keberhasilan program ini diukur dari tingkat survival rate orangutan yang berhasil dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di hutan Kalimantan.
Revenue yang dihasilkan dari aktivitas ekowisata akan dialokasikan 70% untuk operasional program konservasi, 20% untuk pemberdayaan masyarakat lokal, dan 10% untuk pengembangan fasilitas wisata berkelanjutan.

Akses dan Paket Wisata Terintegrasi
Pulau Kaja dapat diakses melalui dermaga Kereng Bangkirai dengan menggunakan kapal wisata yang beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Pengelola menawarkan berbagai paket wisata mulai dari day trip hingga overnight camping untuk pengalaman yang lebih mendalam.
Paket wisata sudah termasuk transportasi kapal, guided tour, welcome drink, makan siang khas Dayak, dan sertifikat partisipasi dalam program konservasi orangutan. Untuk group dan sekolah, tersedia diskon khusus dan program edukasi yang disesuaikan dengan kurikulum.

Pengakuan Internasional dan Award
Program ekowisata Pulau Kaja telah mendapat pengakuan dari World Wildlife Fund (WWF) sebagai model terbaik sustainable primate tourism di Asia Tenggara. Destinasi ini juga dinominasikan dalam ASEAN Tourism Award 2025 kategori Ecotourism Destination of the Year.
“Pulau Kaja membuktikan bahwa konservasi dan pariwisata dapat berjalan seiring untuk menciptakan dampak positif bagi satwa, masyarakat, dan lingkungan,” puji Dr. Erik Meijaard, Primatologist dan Konsultan International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Rencana Pengembangan Masa Depan
Pada tahap selanjutnya, pengelola berencana mengembangkan Orangutan Research Center dan Breeding Facility yang akan menjadikan Pulau Kaja sebagai pusat penelitian primata terkemuka di Indonesia. Fasilitas ini diharapkan dapat menarik peneliti internasional untuk melakukan studi kolaboratif tentang perilaku dan konservasi orangutan.

Tampilkan lebih banyak

Berita Terkait

Back to top button